Hasil pengukuran yang kita peroleh disebut dengan data mentah. Besarnya hasil pengukuran yang kita peroleh biasanya bervariasi. Apabila kita perhatikan data mentah tersebut, sangatlah sulit bagi kita untuk menarik kesimpulan yang berarti. Untuk memperoleh gambaran yang baik mengenai data tersebut, data mentah tersebut perlu di olah terlebih dahulu.
Pada saat kita dihadapkan pada sekumpulan data yang banyak, seringkali membantu untuk mengatur dan merangkum data tersebut dengan membuat tabel yang berisi daftar nilai data yang mungkin berbeda (baik secara individu atau berdasarkan pengelompokkan) bersama dengan frekuensi yang sesuai, yang mewakili berapa kali nilai-nilai tersebut terjadi. Daftar sebaran nilai data tersebut dinamakan dengan Daftar Frekuensi atau Sebaran Frekuensi (Distribusi Frekuensi).
Dengan demikian, distribusi frekuensi adalah daftar nilai data (bisa nilai individual atau nilai data yang sudah dikelompokkan ke dalam selang interval tertentu) yang disertai dengan nilai frekuensi yang sesuai.
Pengelompokkan data ke dalam beberapa kelas dimaksudkan agar ciri-ciri penting data tersebut dapat segera terlihat. Daftar frekuensi ini akan memberikan gambaran yang khas tentang bagaimana keragaman data. Sifat keragaman data sangat penting untuk diketahui, karena dalam pengujian-pengujian statistik selanjutnya kita harus selalu memperhatikan sifat dari keragaman data. Tanpa memperhatikan sifat keragaman data, penarikan suatu kesimpulan pada umumnya tidaklah sah.
Sebagai contoh, perhatikan contoh data pada Tabel 1. Tabel tersebut adalah daftar nilai ujian Matakuliah Statistik dari 80 Mahasiswa (Sudjana, 19xx).
Tabel 1. Daftar Nilai Ujian Matakuliah Statistik
| 79 |
49 |
48 |
74 |
81 |
98 |
87 |
80 |
| 80 |
84 |
90 |
70 |
91 |
93 |
82 |
78 |
| 70 |
71 |
92 |
38 |
56 |
81 |
74 |
73 |
| 68 |
72 |
85 |
51 |
65 |
93 |
83 |
86 |
| 90 |
35 |
83 |
73 |
74 |
43 |
86 |
88 |
| 92 |
93 |
76 |
71 |
90 |
72 |
67 |
75 |
| 80 |
91 |
61 |
72 |
97 |
91 |
88 |
81 |
| 70 |
74 |
99 |
95 |
80 |
59 |
71 |
77 |
| 63 |
60 |
83 |
82 |
60 |
67 |
89 |
63 |
| 76 |
63 |
88 |
70 |
66 |
88 |
79 |
75 |
Sangatlah sulit untuk menarik suatu kesimpulan dari daftar data tersebut. Secara sepintas, kita belum bisa menentukan berapa nilai ujian terkecil atau terbesar. Demikian pula, kita belum bisa mengetahui dengan tepat, berapa nilai ujian yang paling banyak atau berapa banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai tertentu. Dengan demikian, kita harus mengolah data tersebut terlebih dulu agar dapat memberikan gambaran atau keterangan yang lebih baik.
Bandingkan dengan tabel yang sudah disusun dalam bentuk daftar frekuensi (Tabel 2a dan Tabel 2b). Tabel 2a merupakan daftar frekuensi dari data tunggal dan Tabel 2b merupakan daftar frekuensi yang disusun dari data yang sudah di kelompokkan pada kelas yang sesuai dengan selangnya. Kita bisa memperoleh beberapa informasi atau karakteristik dari data nilai ujian mahasiswa.
Tabel 2a.
| No |
Nilai Ujian |
Frekuensi |
|
xi |
fi |
| 1 |
35 |
1 |
| 2 |
36 |
0 |
| 3 |
37 |
0 |
| 4 |
38 |
1 |
| : |
: |
: |
| 16 |
70 |
4 |
| 17 |
71 |
3 |
| : |
: |
1 |
| 42 |
98 |
1 |
| 43 |
99 |
1 |
|
Total |
80 |
Pada Tabel 2a, kita bisa mengetahui bahwa ada 80 mahasiswa yang mengikuti ujian, nilai ujian terkecil adalah 35 dan tertinggi adalah 99. Nilai 70 merupakan nilai yang paling banyak diperoleh oleh mahasiswa, yaitu ada 4 orang, atau kita juga bisa mengatakan ada 4 mahasiswa yang memperoleh nilai 70, tidak ada satu pun mahasiswa yang mendapatkan nilai 36, atau hanya satu orang mahasiswa yang mendapatkan nilai 35.
Tabel 2b.
| Kelas ke- |
Nilai Ujian |
Frekuensi fi
|
| 1 |
31 – 40 |
2 |
| 2 |
41 – 50 |
3 |
| 3 |
51 – 60 |
5 |
| 4 |
61 – 70 |
13 |
| 5 |
71 – 80 |
24 |
| 6 |
81 – 90 |
21 |
| 7 |
91 – 100 |
12 |
|
Jumlah |
80 |
Tabel 2b merupakan daftar frekuensi dari data yang sudah dikelompokkan. Daftar ini merupakan daftar frekuensi yang sering digunakan. Kita sering kali mengelompokkan data contoh ke dalam selang-selang tertentu agar memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai karakteristik dari data. Dari daftar tersebut, kita bisa mengetahui bahwa mahasiswa yang mengikuti ujian ada 80, selang kelas nilai yang paling banyak diperoleh oleh mahasiswa adalah sekitar 71 sampai 80, yaitu ada 24 orang, dan seterusnya. Hanya saja perlu diingat bahwa dengan cara ini kita bisa kehilangan identitas dari data aslinya. Sebagai contoh, kita bisa mengetahui bahwa ada 2 orang yang mendapatkan nilai antara 31 sampai 40. Meskipun demikian, kita tidak akan tahu dengan persis, berapa nilai sebenarnya dari 2 orang mahasiswa tersebut, apakah 31 apakah 32 atau 36 dst.
Ada beberapa istilah yang harus dipahami terlebih dahulu dalam menyusun daftar frekuensi.
Tabel 3.
| Kelas ke- |
Selang
Nilai Ujian |
Batas Kelas |
Nilai Kelas
(xi) |
Frekuensi
(fi) |
| 1 |
31 – 40 |
30.5 – 40.5 |
35.5 |
2 |
| 2 |
41 – 50 |
40.5 – 50.5 |
45.5 |
3 |
| 3 |
51 – 60 |
50.5 – 60.5 |
55.5 |
5 |
| 4 |
61 – 70 |
60.5 – 70.5 |
65.5 |
13 |
| 5 |
71 – 80 |
70.5 – 80.5 |
75.5 |
24 |
| 6 |
81 – 90 |
80.5 – 90.5 |
85.5 |
21 |
| 7 |
91 – 100 |
90.5 – 100.5 |
95.5 |
12 |
|
Jumlah |
|
|
80 |
Range : Selisih antara nilai tertinggi dan terendah. Pada contoh ujian di atas, Range = 99 – 35 = 64
Batas bawah kelas: Nilai terkecil yang berada pada setiap kelas. (Contoh: Pada Tabel 3 di atas, batas bawah kelasnya adalah 31, 41, 51, 61, …, 91)
Batas atas kelas: Nilai terbesar yang berada pada setiap kelas. (Contoh: Pada Tabel 3 di atas, batas bawah kelasnya adalah 40, 50, 60, …, 100)
Batas kelas (Class boundary): Nilai yang digunakan untuk memisahkan antar kelas, tapi tanpa adanya jarak antara batas atas kelas dengan batas bawah kelas berikutnya. Contoh: Pada kelas ke-1, batas kelas terkecilnya yaitu 30.5 dan terbesar 40.5. Pada kelas ke-2, batas kelasnya yaitu 40.5 dan 50.5. Nilai pada batas atas kelas ke-1 (40.5) sama dengan dan merupakan nilai batas bawah bagi kelas ke-2 (40.5). Batas kelas selalu dinyatakan dengan jumlah digit satu desimal lebih banyak daripada data pengamatan asalnya. Hal ini dilakukan untuk menjamin tidak ada nilai pengamatan yang jatuh tepat pada batas kelasnya, sehingga menghindarkan keraguan pada kelas mana data tersebut harus ditempatkan. Contoh: bila batas kelas di buat seperti ini:
Kelas ke-1 : 30 – 40
Kelas ke-2 : 40 – 50
:
dst.
Apabila ada nilai ujian dengan angka 40, apakah harus ditempatkan pada kelas-1 ataukah kelas ke-2?
Panjang/lebar kelas (selang kelas): Selisih antara dua nilai batas bawah kelas yang berurutan atau selisih antara dua nilai batas atas kelas yang berurutan atau selisih antara nilai terbesar dan terkecil batas kelas bagi kelas yang bersangkutan. Biasanya lebar kelas tersebut memiliki lebar yang sama. Contoh:
lebar kelas = 41 – 31 = 10 (selisih antara 2 batas bawah kelas yang berurutan) atau
lebar kelas = 50 – 40 = 10 (selisih antara 2 batas atas kelas yang berurutan) atau
lebar kelas = 40.5 – 30.5 = 10. (selisih antara nilai terbesar dan terkecil batas kelas pada kelas ke-1)
Nilai tengah kelas: Nilai kelas merupakan nilai tengah dari kelas yang bersangkutan yang diperoleh dengan formula berikut: ½ (batas atas kelas+batas bawah kelas). Nilai ini yang dijadikan pewakil dari selang kelas tertentu untuk perhitungan analisis statistik selanjutnya. Contoh: Nilai kelas ke-1 adalah ½(31+40) = 35.5
Banyak kelas: Sudah jelas! Pada tabel ada 7 kelas.
Frekuensi kelas: Banyaknya kejadian (nilai) yang muncul pada selang kelas tertentu. Contoh, pada kelas ke-1, frekuensinya = 2. Nilai frekuensi = 2 karena pada selang antara 30.5 – 40.5, hanya ada 2 angka yang muncul, yaitu nilai ujian 31 dan 38.
Teknik pembuatan Tabel Distribusi Frekuensi (TDF)
Distribusi frekuensi dibuat dengan alasan berikut:
- kumpulan data yang besar dapat diringkas
- kita dapat memperoleh beberapa gambaran mengenai karakteristik data, dan
- merupakan dasar dalam pembuatan grafik penting (seperti histogram).
Banyak software (teknologi komputasi ) yang bisa digunakan untuk membuat tabel distribusi frekuensi secara otomatis. Meskipun demikian, di sini tetap akan diuraikan mengenai prosedur dasar dalam membuat tabel distribusi frekuensi.
Langkah-langkah dalam menyusun tabel distribusi frekuensi:
-
Urutkan data, biasanya diurutkan dari nilai yang paling kecil
-
Tentukan range (rentang atau jangkauan)
-
Tentukan banyak kelas yang diinginkan. Jangan terlalu banyak/sedikit, berkisar antara 5 dan 20, tergantung dari banyak dan sebaran datanya.
-
Tentukan panjang/lebar kelas interval (p)
-
Tentukan nilai ujung bawah kelas interval pertama
Pada saat menyusun TDF, pastikan bahwa kelas tidak tumpang tindih sehingga setiap nilai-nilai pengamatan harus masuk tepat ke dalam satu kelas. Pastikan juga bahwa tidak akan ada data pengamatan yang tertinggal (tidak dapat dimasukkan ke dalam kelas tertentu). Cobalah untuk menggunakan lebar yang sama untuk semua kelas, meskipun kadang-kadang tidak mungkin untuk menghindari interval terbuka, seperti ” ≥ 91 ” (91 atau lebih). Mungkin juga ada kelas tertentu dengan frekuensi nol.
Contoh:
Kita gunakan prosedur di atas untuk menyusun tabel distribusi frekuensi nilai ujian mahasiswa (Tabel 1).
Berikut adalah nilai ujian yang sudah diurutkan:
35 38 43 48 49 51 56 59 60 60
61 63 63 63 65 66 67 67 68 70
70 70 70 71 71 71 72 72 72 73
73 74 74 74 74 75 75 76 76 77
78 79 79 80 80 80 80 81 81 81
82 82 83 83 83 84 85 86 86 87
88 88 88 88 89 90 90 90 91 91
91 92 92 93 93 93 95 97 98 99
2. Range:
[nilai tertinggi – nilai terendah] = 99 – 35 = 64
3. Banyak Kelas:
Tentukan banyak kelas yang diinginkan.
Apabila kita lihat nilai Range = 64, mungkin banyak kelas
sekitar 6 atau 7.
Sebagai latihan, kita gunakan aturan Sturges.
banyak kelas = 1 + 3.3 x log(n)
= 1 + 3.3 x log(80)
= 7.28 ≈ 7
4. Panjang Kelas:
Panjang Kelas = [range]/[banyak kelas]
= 64/7
= 9.14 ≈ 10
(untuk memudahkan dalam penyusunan TDF)
5. Tentukan nilai batas bawah kelas pada kelas pertama.
Nilai ujian terkecil = 35
Penentuan nilai batas bawah kelas bebas saja,
asalkan nilai terkecil masih masuk ke dalam kelas tersebut.
Misalkan: apabila nilai batas bawah yang kita pilih adalah 26,
maka interval kelas pertama: 26 – 35, nilai 35 tepat jatuh
di batas atas kelas ke-1. Namun apabila kita pilih
nilai batas bawah kelas 20 atau 25, jelas nilai terkecil, 35,
tidak akan masuk ke dalam kelas tersebut.
Namun untuk kemudahan dalam penyusunan dan pembacaan TDF,
tentunya juga untuk keindahan, he2.. lebih baik kita memilih
batas bawah 30 atau 31. Ok, saya tertarik dengan angka 31,
sehingga batas bawahnya adalah 31.
Dari prosedur di atas, kita dapat info sebagai berikut:
Banyak kelas : 7
Panjang kelas : 10
Batas bawah kelas : 31
Selanjutnya kita susun TDF:
Form TDF:
------------------------------------------------------------
Kelas ke- | Nilai Ujian | Batas Kelas | Turus | Frekuensi
------------------------------------------------------------
1 31 -
2 41 -
3 51 -
: : -
6 81 -
7 91 -
------------------------------------------------------------
Jumlah
------------------------------------------------------------
Tabel berikut merupakan tabel yang sudah dilengkapi
| Kelas ke- |
Nilai Ujian |
Batas Kelas |
Frekuensi
(fi) |
| 1 |
31 – 40 |
30.5 – 40.5 |
2 |
| 2 |
41 – 50 |
40.5 – 50.5 |
3 |
| 3 |
51 – 60 |
50.5 – 60.5 |
5 |
| 4 |
61 – 70 |
60.5 – 70.5 |
13 |
| 5 |
71 – 80 |
70.5 – 80.5 |
24 |
| 6 |
81 – 90 |
80.5 – 90.5 |
21 |
| 7 |
91 – 100 |
90.5 – 100.5 |
12 |
|
Jumlah |
|
80 |
atau dalam bentuk yang lebih ringkas:
| Kelas ke- |
Nilai Ujian |
Frekuensi
(fi) |
| 1 |
31 – 40 |
2 |
| 2 |
41 – 50 |
3 |
| 3 |
51 – 60 |
5 |
| 4 |
61 – 70 |
13 |
| 5 |
71 – 80 |
24 |
| 6 |
81 – 90 |
21 |
| 7 |
91 – 100 |
12 |
|
Jumlah |
80 |
Distribusi Frekuensi Relatif dan Kumulatif
Variasi penting dari distribusi frekuensi dasar adalah dengan menggunakan nilai frekuensi relatifnya, yang disusun dengan membagi frekuensi setiap kelas dengan total dari semua frekuensi (banyaknya data). Sebuah distribusi frekuensi relatif mencakup batas-batas kelas yang sama seperti TDF, tetapi frekuensi yang digunakan bukan frekuensi aktual melainkan frekuensi relatif. Frekuensi relatif kadang-kadang dinyatakan sebagai persen.
Frekuensi relatif = 
Contoh: frekuensi relatif kelas ke-1:
fi = 2; n = 80
Frekuensi relatif = 2/80 x 100% = 2.5%
| Kelas ke- |
Nilai Ujian |
Frekuensi relatif (%) |
| 1 |
31 – 40 |
2.50 |
| 2 |
41 – 50 |
3.75 |
| 3 |
51 – 60 |
6.25 |
| 4 |
61 – 70 |
16.25 |
| 5 |
71 – 80 |
30.00 |
| 6 |
81 – 90 |
26.25 |
| 7 |
91 – 100 |
15.00 |
|
Jumlah |
100.00 |
Distribusi Frekuensi kumulatif
Variasi lain dari distribusi frekuensi standar adalah frekuensi kumulatif. Frekuensi kumulatif untuk suatu kelas adalah nilai frekuensi untuk kelas tersebut ditambah dengan jumlah frekuensi semua kelas sebelumnya.
Perhatikan bahwa kolom frekuensi selain label headernya diganti dengan frekuensi kumulatif kurang dari, batas-batas kelas diganti dengan “kurang dari” ekspresi yang menggambarkan kisaran nilai-nilai baru.
| Nilai Ujian |
Frekuensi kumulatif kurang dari |
| kurang dari 30.5 |
0 |
| kurang dari 40.5 |
2 |
| kurang dari 50.5 |
5 |
| kurang dari 60.5 |
10 |
| kurang dari 70.5 |
23 |
| kurang dari 80.5 |
47 |
| kurang dari 90.5 |
68 |
| kurang dari 100.5 |
80 |
atau kadang disusun dalam bentuk seperti ini:
| Nilai Ujian |
Frekuensi kumulatif kurang dari |
| kurang dari 41 |
2 |
| kurang dari 51 |
5 |
| kurang dari 61 |
10 |
| kurang dari 71 |
23 |
| kurang dari 81 |
47 |
| kurang dari 91 |
68 |
| kurang dari 101 |
80 |
Variasi lain adalah Frekuensi kumulatif lebih dari. Prinsipnya hampir sama dengan prosedur di atas.
Histogram
Histogram adalah merupakan bagian dari grafik batang di mana skala horisontal mewakili nilai-nilai data kelas dan skala vertikal mewakili nilai frekuensinya. Tinggi batang sesuai dengan nilai frekuensinya, dan batang satu dengan lainnya saling berdempetan, tidak ada jarak/ gap diantara batang. Kita dapat membuat histogram setelah tabel distribusi frekuensi data pengamatan dibuat.

Poligon Frekuensi:
Poligon Frekuensi menggunakan segmen garis yang terhubung ke titik yang terletak tepat di atas nilai-nilai titik tengah kelas. Ketinggian dari titik-titik sesuai dengan frekuensi kelas, dan segmen garis diperluas ke kanan dan kiri sehingga grafik dimulai dan berakhir pada sumbu horisontal.

Ogive
Ogive adalah grafik garis yang menggambarkan frekuensi kumulatif, seperti daftar distribusi frekuensi kumulatif. Perhatikan bahwa batas-batas kelas dihubungkan oleh segmen garis yang dimulai dari batas bawah kelas pertama dan berakhir pada batas atas dari kelas terakhir. Ogive berguna untuk menentukan jumlah nilai di bawah nilai tertentu. Sebagai contoh, pada gambar berikut menunjukkan bahwa 68 mahasiswa mendapatkan nilai kurang dari 90.5.

saya sangat butuh info ttg statistik terutama krn skrg sy lg nyusun skripsi. mohon bantuannya ya pak..
Selagi saya sempat dan mampu, Insya4JJl saya bantu..
bagaimana kalau datanya itu berkoma dan jaraknya sedikit sekali
contoh:
9.3 – 9.7
9.8 – 10.2
10.3 – 10.7
pada saat saya telah mendapatkan modus dan median. hasilnya tidak pas dengan letak kelas nilai tersebut.
jadi bagaimana? bolehkan data soal saya ubah menjadi 93 – 97
98 – 102
103 – 107
sudah saya cari dengan nilai ini, baru pas hasilny dengan letak kelasnya.
mohon jawabannya. terimakasih.
Apabila angka dibelakang koma ≥ satu digit??
Banyaknya digit untuk penentuan batas bawah/atas kelas tergantung pada tingkat ketelitian datanya. Misalnya apabila sumber data aslinya sprti ini: 3.4 4.5 6.7 dst (ada satu digit dibelakang koma), maka batas bawah/atas kelasnya pun mempunyai digit yang sama, ex:
(jika lebar kelas = 0.5)
3.0 – 3.4
3.5 – 3.9
4.0 – 4.5
dst
Atau jika lebar kelas = 3.0
3.0 – 5.9
6.0 – 8.9
9.0 – 12.9
Batas Kelas?? Batas kelas selalu dinyatakan dengan jumlah digit satu desimal lebih banyak daripada data pengamatan asalnya. Contoh: batas kelas untuk kelas pertama:
3.0 – 0.05 = 2.95 dan 5.9 + 0.05 = 5.95
Kelas 2: 6.0 – 0.05 = 5.95 dan 8.95
Apabila sumber datanya paling banyak 3 digit dibelakang koma, eks: 3.432; 4.543; 6.998 dst, maka penentuan batas atas/bawah kelas pun harus sesuai, ex:
jika lebar kelas = 3.0
3.000 – 5.999
6.000 – 8.999
9.000 – 12.999
Batas Kelas untuk kelas pertama: 2.9995 dan 5.9995
Penentuan berapa banyak kelas, lebar kelas, dst, bisa lihat pada ketentuan yang terdapat pada uraian di atas, misalnya: banyak kelas antara 5-20 tergantung banyaknya data, atau pakai aturan sturges: 1 +3.3 log(n)
TERIMA KASIH!!!
sebelumnya saya mohon bantuannya pak, saya mhs tk.akhir yg sedang skripsi, saat ini saya sedikit kebingungan dgn analisis data saya mengenai potensi pemanfaatan limbah tandan kosong, berdasarkan literatur yg saya baca, sekitar 20-23% dari TBS adalh limbah tandan kosong kelapa sawit, namun dalam prakteknya di pabrik kelapa sawit yg saya teliti jumlahnya sekitar 20,59%. bagaimana cara saya menentukan persentase dari limbah itu, apakah yg berdasarkan literatur atau secara prakteknya?
Maaf blsnnya telat.. Memang judul skripsinya apa Mawadah? identifikasi masalahnya sprti gmn? Apakah membandingkan antara persentase yg ada di literatur dg hasil penelitian? kalau iya, mungkin bisa menggunakan uji z untuk data dalam bentuk proporsi.
Saya kira hasil penelitiannya (20,59%) masih dalam interval 20-23% kan? atau gunakan metode selang kepercayaan 95% (misalnya, atau 90%) untuk nilai proporsi yang didapat dari penelitiannya. Mungkin dengan mempelajari Selang kepercayaan (Confidence Interval Method) bisa membantu. Ada di buku2 statistik…
Maaf blsnnya telat.. Memang judul skripsinya apa Mawadah? identifikasi masalahnya sprti gmn? Apakah membandingkan antara persentase yg ada di literatur dg hasil penelitian? kalau iya, mungkin bisa menggunakan uji z untuk data dalam bentuk proporsi.
Saya kira hasil penelitiannya (20,59%) masih dalam interval 20-23% kan? atau gunakan metode selang kepercayaan 95% (misalnya, atau 90%) untuk nilai proporsi yang didapat dari penelitiannya. Mungkin dengan mempelajari Selang kepercayaan (Confidence Interval Method) bisa membantu. Ada di buku2 statistik…
judul skripsi saya ‘potensi pemanfaatan limbah pabrik sebagai pupuk kompos di prov.sumut’, dan penelitiannya bersifat deskriptif, data2 yang saya punya merupakan jumlah produksi TBS per kabupaten dan luas areal lahan. saya menghitung seberapa besarnya potensi tandan kosong yang dapat dijadikan pupuk kompos, berdasarkan literatur yang saya baca itulah sekitar 20 – 23% merupakan limbah tankos, namun dalam prakteknya di PT.X persentasenya sekitar 20,59, yang mana PT.X ini adalah sebagai indikator penghitungan selanjutnya karena PT.X ini sudah mempraktekkan pembuatan pupuk kompos tandan kosong. dan kemudian hasil yang sudah dikalikan dengan persentase akan diproyeksikan selama 5 tahun dengan rumus eksponensial. jadi berapa persentase sbenarnya yang harus saya kalikan dengan jumlah produksi itu, apa yg sesuai literatur atau sesuai PT.X sbg indikator, atau hanya dirata – rata kan saja dengan kisaran 20 – 23%?
Kalau menurut saya sebaiknya menggunakan data hasil penelitian yang ada di PT X, 20,59%, karena PT X ini akan dijadikan sebagai indikator bukan? Kisaran antara 20-23% itu mungkin didapatkan dari hasil kajian beberapa PT dan nilainya ada dalam rentang tersebut, trmsk yang 20,59% msh dalam kisaran itu. Kalau menurut saya sebaiknya menggunakan Selang Kepercayaan, misal selang (interval) kepercayaan 95 % untuk nilai presentasenya.
ssssss
sssssss lg
ok pak, terima kasih buat masukan nyaa.. oiaa, ada bahan mengenai analisis data deskriptif kuantitatif, ekonometrika, riset operasi dan simulasi statistik ga pak?
untuk menentukan nilai ujian terkecil di ambil 31 knapa tidak 35 apakah nilai ujiannya tersebut akan sama ga..? hasilnya 31- 40 dengan 35-45 fi dan f komulatifnya ?
Bisa saja nilai yang diambil untuk batas bawah kelas pertama = 35. Penentuan nilai batas bawah kelas pertama sudah di bahas di atas. Pilih sembarang nilai asalkan frekuensi pada kelas pertama tersebut tidak bernilai 0. Jelas apabila batas bawahnya berbeda, nilai fi dan f kumulatifnya pun akan berbeda…
syukron ats info’a. ^_^
sama2 Lyn..
Mohon bantuannya Pak, saya sedang kesulitan dalam menghitung batas kelas atau interval kelas. Begini permasalahannya, diketahui batas bawah = 24 dan batas atas = 120, sehingga diketahui interval kelasnya 19,2. Yg menjadi masalah adalah kelas yang diinginkan adalah sebanyak 5 kelas. bagaimana cara membaginya kedalam masing2 kelas? Karena nantinya hal ini akan penting digunakan untuk mengukur persepsi seseorang terhadap suatu produk, sebagai penelitian skripsi saya. Matur nuwun.
Terima kasih atas info yang Bapak berikan.Sangat informatif khususnya untuk saya yang sedang mengerjakan skripsi.
Pertanyaan:
1. Apakah bisa mendeteksi outlier dari distribusi frekuensi? Apa sebelum membuat distribusi frekuensi harus dicari dulu outlier-nya dan dibuang?
2. Pada grafik Ogive, apa bagian frekuensi bisa diganti jadi frekuensi relatif (%) ??
Mohon bantuan Bapak
kalau ada kejanggalan data seperti 2 31 41 41 45 47 48 51 53 54 55 56 57 57 57 58 dst gm cara mencari frekuensi terbukanya??? mhon di bantu
data sampai 97
di ket kelas 7 interval kelasnya 14 data sbg berikut:
2 31 14 14 14 45 47 48 51 53 54
55 56 57 57 57 58 59 61 61 62
62 64 65 65 66 67 67 68 69 69
70 70 70 71 71 73 74 75 75 76
79 80 80 82 82 84 85 90 92 97
gm membuat tabel frekuensi dan rata2 nilai ujian
thanks
Wah sepertinya dah telat balasnya nih
Maaf, saya baru sempet ngontrol comment di WP.
Karena dah telat, serta kasusnya mirip dengan contoh yang sudah diuraikan di atas, mungkin ada rekan yang bisa membantu menyelesaikannya?
- Urutkan data, biasanya diurutkan dari nilai yang paling kecil
- Tentukan range (rentang atau jangkauan)
- Tentukan banyak kelas yang diinginkan.
- Tentukan panjang/lebar kelas interval (p)
- Tentukan nilai ujung bawah kelas interval pertama
mohon bantuannya pak.. saya kesulitan dalam membuat tabel distribusi frekuensi dengan desimal…
range data = 24,6 – 7,3 = 17,3 dengan banyak kelas 7,188 (dg pembulatan menjadi 7). klo dhitung panjang kelasnya menjadi 2,5 . yg saya bingungkan bagaimana tabel distribusi frekuensinya?
mohon bantuannya pak, trimakasih
Range = 17.3
Banyak Kelas = 7
Panjang Kelas = 17.3/7 = 2.47 ~ 3.0
Makasih banget loh ini rumus rumus mat nya, sangat membantu untuk ulangan semester besok!
God bless you
hhmm.. mAteri ttg statistik frequensi ini sesuai bgt sama yg saya pelajari d smster sekarang..:)
mmm.. pak,, bisa bantuin saya ngak gimana cara bikin diagram balok, histogram, diagram lingkaran, n Ogive dari progrAM SPSS ??
makasih sbelumnya _^
mas saya mau tanya,,,buat data 100 nilai variabel dibuat DF 4 kelompok dengan range 50.
gmna cara penyelesaiannya,,sya bingung dengan itu,mohon bantuannya ya ,,,makash sebelumntya
Maksudnya 4 Kelompok = 4 Kelas???
Benarkah kalau misal saya bertanya tentang seputar ilmu statistik di kuliah. apakah Anda bersedia menjawab kesulitan yang saya hadapi. kemungkinan kalau pesan ini dibalas saya langsung kasihkan apa masalah saya. terimakasih
sangat membantu dalam menyelesaikan tugas, terimakasih
trus cara penyusunan distribusi komulatif relatif gimana ea……… mohon bantuannya…….. terima kasih…..
Nilai frekuensi pada kelas tersebut dibagi dengan banyaknya data keseluruhan.
Contoh:
frekuensi kurang dari 30.5 = 0, maka frekuensi relatifnya = 0/80*100% = 0.00%
frekuensi kurang dari 40.5 = 2, maka frekuensi relatifnya = 2/80*100% = 2.50%
dst..
nama lainnya selangkelas apa ya pak? makasih infonya membantu untuk materi PWK di sma saya.
gk jadi pak. hehe. makasih ya paak.
ok dila…
pak mau nnya nih cr penghitungan persentase yg kumulatif kurang dari sama lebih dari gmna ya? mhon d,bls cepetanya *untukbahan persentse besok* hhii
trmksih sblm,a pak
Wah dah telat nih, presentasinya dah lewat kan? Maaf saya tidak setiap hari online, dan baru mlm ini baca komentar di WP
Sepertinya balasannya bisa diwakili oleh komentar di atas: https://smartstat.wordpress.com/2010/03/29/distribusi-frekuensi/#comment-781
izin pak… mau nanya, bagaimana bentuk tabel frekuensi distribusi secara lengkap (ada gambar histogramnya juga) untuk soal seperti berikut ini:
Data penduduk umur 50 Tahun ke atas dari 35 kabupaten/kota di Jateng adalah (dalam ribuan)..? 76 78 40 39 71 54 36 64 53 80
38 68 36 45 56 47 26 59 20 42
33 45 33 42 29 30 52 55 65 8
37 5 55 8 7
bagaimana kira kumulatif frekuensi ( cnth who did not score 10 ) dengan guna dalam graph polygon excel
cuba tutorial link berikut:
http://www.smartstat.info/tutorial/microsoft-excel/tutorial-excel-histogram-toolpak.html
Sy merasa snanx dgx ad’y matery in! Terimakasih
dbwah ini tinggi bdan 100siswa sbuah SD dalam cm
tinggi badan
kurang dr 59,5 0
kurang dr 69,5 5
kurang dr 59,5 23
kurang dr 69,5 65
kurang dr 59,5 92
kurang dr 69,5 100
hitunglah a. rata2 tinggi badan b. modusnya
Contoh perhitungannya ada di link berikut:
http://www.smartstat.info/statistika/statisika-deskriptif/ukuran-pemusatan-data-mean-median-mode.html
pak saya mau tanya. kalau data saya desimal, rentangnya 10,85 terbesar dan trkcil 7, 20 bnyak klasnya 7 maka kalau djumlh hsilnya 1 lalu bgmana mmbuat kls intrvlnya pak? terimakasih pak.
Coba Eky baca kembali dengan cermat komentar yang ada di page ini. Mudah2an ada pencerahan
apa perbedaan nilai kontinue dan diskrit itu ya??
pak mohon penjelasan tentang ogive saya kurang mengerti
ini tugas 1 kampuzz gk bisa pak,mohon BANTUANnya
jka diket TPB 3,4,5 intervl klas(c)=6.
dgn frekuensi absolut 4,5,6,3,2,8,9,mka buatlah distribusi frekuensi lengkap.
dri 22,22,22,22,22,22,22,23,23,23,23,23,
24,25,26,26,27,27,27,27,28,28,28,28,
29,29,29,30,30,30,30,31,31,31,32,32,
33,33,33,34,34,34,34,34,35,35,36,36
37,37,39,40,40,41,41,44,44,44,45,45,45,45,
diketahui data 40 42 44 46 48 50 53 55 57 60 61 65 66 68 69 71 77 78 79 80
mengapa saya tidak dapat membuat interval kelas ny dengan tepat dari soal tsb
sedangkan pada soal laen ato soal yg diberikan oleh dosen bisa saya buat interval kelas yg tepat selalu kurang satu angka ato lebih dari satu angka misalny 79 atau 81 batas akhirnyaa
mohon saran atau koreksiny
terima kasih sebelumnyaaa
asslm pak..mau tanya klo soal DF nya gini pak
banyak pegawai banyak perusahaan
sampai dengan 9 63
10-24 101
25-49 114
50-99 87
100-249 105
250-499 49
gmna mencari kuartil dan modusnya pak?
mkasih pak
asslm pak..mau tanya klo soal DF nya gini pak
banyak pegawai banyak perusahaan
sampai dengan 9 63
10-24 101
25-49 114
50-99 87
100-249 105
250 dan lebih
gmna mencari kuartil dan modusnya pak?
mkasih pak
mau tnya.. Data d bawah ini mrupakan data klahiran penduduk di jawa periode 1955-1959:
32,5 34,8 32,8 39,8 32,4 27,8 33,1 35,8
34,2 18,5 40,6 32,9 34,2 37,3 27,3 29,8
20,7 31,2 32,4 27,8 35,1 25,7 37,4 39,7
44,3 32,0 18,2 40,7 34,5 37,6 28,6 33,8
42,0 43,2 35,8 32,5 30,0 36,0 36,2 33,1
36,5 31,6 31,6 15,8 39,0 37,2 29,7
42,8 33,1 43,1 43,1 43,1 35,0 34,5
33,3 27,6 30,6 29,6 13,0 36,1 30,1
41,7 43,7 37,5 41,7 35,7 29,6 42,9
38,5 37,6 36,8 30,8 30,2 32,2 33,4
gimana cara buat daftar distribusi frekuensi dengan menggunakan aturan sturges??
bagaimana cara mengetahui distribusi frekuensi secara lengkap apabila yang diketahuinya titik tengah :
titik tengah
34.5
44.5
54.5
64.5
74.5
84.5
94.5
Pak saya mau nanya gmna klo trdapat 50 data
datanya sbb:
25 26 27 27 28 29 30 31 32 33
33 34 35 35 36 37 38 39 40 41
42 44 45 47 50 51 53 57 58 59
61 63 64 65 67 69 70 75 77 79
80 81 82 83 84 85 86 87 88 89
gmna cr menentukan pnjang/lbr interval klsx klo jumlah klsx ada 7.
trim’s…..
makasih buat isi makalah nya, mantap banget gan